Senin, 05 April 2010

Harapanku


“Ar, elo kenapa kok diem aja dari tadi? Apa lo punya masalah?” Tanya Vivi lembut.
“Gak ada masalah kok,” aku berbohong demi menutupi masalah yang terjadi padaku.
“Ya sudah tapi misalkan elo ada masalah, cerita aja ke gue. Daripada lo pendem terus entar bikin lo murung.”
“Iya pastinya kok,” aku meyakinkan Vivi.
“Gue ke kantin dulu ya.”
‘Maaf ya Vi kali ini aku gak bisa cerita masalahku ke kamu. aku pengen nyelesain sendiri aja’ batinku.

***
Jam istirahat tiba. Tapi aku di kelas saja ingin meyelesaikan masalahku.
“Ar, ke kantin yuk?” ajak Vivi saat ingin keluar kelas.
“Maaf ya Vi tapi aku lagi gak laper,” jawabku menolak.
Vivi pun pergi ke kantin sendiri. Karena biasanya Vivi pergi ke kantin bersamaku tapi kali ini tidak.
“Kenpa ya Vivi doang yang perhatian sama aku. Orang Tuaku aja jarang banget perhatiin aku. Padahal aku udah turutin semua keinginan orang tuaku,” ucapku saat Vivi pergi.
Tak lama kemudian Vivi datang tapi dia gak sendiri melainkan berdua bersama teman sekelasnya dulu. Dia adalah Via.
Vivi dan Via terus ngobrol sambil makan makanan yang sudah dibelinya di kantin. Sedangkan aku hanya diam memikirkan masalahku. Hanya sendiri gak ada yang mengajakku berbicara. Lagi pula aku juga anaknya kurang bergaul. Jadi, banyak teman yang mendiamiku. Aku iri sekali dengan Vivi karena dia punya banyak sekali teman. Dari cowok maupun cewek. Sedangkan aku cuma Vivi dan Via temannya.
  Kalau di rumah aku juga jarang banget keluar. Paling- paling di rumah cuma nonton atau baca buku di kamar. Padahal anak- anak di rumahku rata- rata sepantaran aku semua. Ya, mau diapain lagi kalau aku memang begini adanya.

***
Jam pulang sekolah tiba. Aku pun merapihkan buku dan alat tulisku ke dalam tas.
Saat ku sudah keluar kelas sepertinya aku males pulang ke rumah soalnya aku bete di rumah. Makan, nonton dan tidur. Gak ada yang merhatiin pula. Hidupku tuh serasa hampa gak ada teman, gak perhatian, gak ada kasih sayang dan gak kebahagiaan, yang ada hanya sendiri, bengong, murung dan bete bete bete. Tapi aku bersyukur punya teman seperti Vivi. Udah baik, perhatian sama orang, jujur, dan terima apa adanya. Tapi aku harus pulang ke rumah walaupun yang ada hanya bengong.
“Yah.. angkot pada penuh lagi,” kesalku.
‘Daripada bengong mendingan duduk di bangku.’
“Nah itu ada,” legaku ketika ada angkot tersebut mendekat. “Bang penuh ya?” tanyaku.
“Masih muat kok dek,” kata abang angkot itu.
‘Tak apalah yang penting ada. Walaupun harus ngegelantung,’ ucapku dalam hati lalu menaiki angkot tersebut.
Sesampaiku di rumah aku bener- bener bete banget. Ternyata mamah gak ada di rumah. Emang sih kalo siang- siang rumah sepi. Papah pergi ke kantor, Riko lagi sekolah, Mamah pergi lagi- pergi lagi.
Punya rumah gede tingkat 2 tapi kalo siang- siang sepi. Cuma ditempatin aku sendiri.
“Huh.. sendiri lagi.. sendiri lagi,” teriakku langsung pergi ke kamarku di lantai atas untuk mengganti baju. Dan tak lama kemudian aku tertidur.

***
“Kok tumben ya Vivi belum datang. Cuma baru aku dan Rara yang datang,” ucapku saat memasukki kelas. Ketika aku ingin duduk Via tiba- tiba datang.
“Eh.. Vivi udah datang belum?” tanyanya padaku.
“Belom,” jawabku pelan. Via pun pergi tapi dia malah balik lagi.
“Oh ya kalo dia udah datang bilang ya tadi gue ke sini terus suruh ke kelas gue ya. Thanks ya Ar,” Via menitipkan pesannya padaku.
“Iya,” jawabku singkat lalu Via pergi.
Aku pun menunggu Vivi datang sampai bel masuk berbunyi. Tetapi dia tak juga datang. Dan aku tak sengaja mendengar bisikan anak- anak tentang Vivi. Katanya Vivi dan keluarganya kecelakaan kemarin dan Vivi dalam kondisi kritis. Aku kaget mendengar kabar itu tapi aku tak tahu dimana Vivi dirawat. Aku juga gak begitu akrab sama anak- anak.
Saat jam istirahat tiba dan guru sudah keluar, ketua kelasku Febby memberikan pengumuman.
“Teman- teman jangan pada keluar dulu ada pengumuman,” teriak Febby.
“Pengumuman apa?” serentak semua kecuali aku tidak bertanya.
“Vivi dan kelurganya kecelakaan saat menaiki mobil dan Vivi dalam kondisi kritis. Saya mohon keikhlasan kalian untuk membantu meringankan biaya rumah sakit Vivi dan keluarga. Jika kalian tidak ada uang saya mohon untuk mendoakan Vivi agar lewat dari masa kritisnya.”
Febby dan teman-temannya pun menyediakan topi untuk menampung uang sumbangan buat Vivi. Setelah semua terkumpul, Febby memberitahu semua lagi.
“Oh ya kata Bu Rina bagi yang mau ikut ke rumah sakit melihat Vivi silahkan ke Bu Rina. Coba acung tangan yang ingin ikut!”
Aku pun mengacungkan tangan dan yang ikut menjenguk Vivi ada lima orang termasuk Febby dan Bu Rina. Aku dan temanku yang ingin ikut pergi ke Bu Rina bersama Febby untuk memberi uang sumbangannya.

***
Jam pulang sekolah pun tiba lalu aku, Febby, Bu Rina dan lainnya pergi ke rumah sakit.
Saat sudah sampai aku ingin menangis tapi aku tak mau karena aku sudah berjanji dengan Vivi agar tidak menangis lagi karena aku adalah laki- laki. Lalu kami melihat Vivi yang berada di ruang ICU. Jadi, kami bergantian masuk karena yang menjenguk hanya terbatas.
Setelah menengok Vivi, Bu Rina, Febby dan temanku menengok Orang Tua Vivi di ruang perawatan, sedangkan aku masih ingin menemani Vivi.
“Vi, semoga kamu sembuh ya. Aku gak mau kehilangan kamu. Kamu adalah best friendku. Jadi kamu harus sembuh ya,” lalu saya menyusul Bu Rina dan teman-temanku.
“Ibu saya prihatin sekali atas kejadian keluarga Ibu alami,” turut prihatin Bu Rina saat sudah masuk keruang perawatan Orang Tua Vivi.
“Terima kasih ya Bu Rina. Tapi bagaimana keadaan Vivi?” Tanya Ibu Vivi.
“Dia pasti lewat dari masa kritis. Oh ya bu saya dan anak- anak sudah membayar sebagian perawatan Ibu, Bapak dan Vivi,” beritahu Bu Rina dan memegang tangan Ibu Vivi.
“Terima kasih banyak ya Bu Rina.”
“Sama- sama, Bu.”
Aku pun permisi keluar untuk menenangkan diri. Setelah itu, aku pergi ke ruang ICUnya Vivi. Aku pun terus menatapinya.
Tiba- tiba Bu Rina, Febby dan lainnya meyadarkanku dari lamunan untuk pulang.
Sesampaiku di rumah, ternyata Mamah sudah pulang. Tapi sepertinya Mamah tampak marah.
“Ardi, kenapa kamu baru pulang?” Tanya Mamah penuh dengan emosi..
“Aku habis jenguk temanku di rumah sakit,” jawabku.
“Ngapain kamu perhatian sama dia. Ya, biarin aja dia diurusin sama orang tuanya.”
“Ya orang tuanya juga ikut dalam kecelakaan Mamah,” jelasku pada Mamah.
“Tapi kamu ngapain ngurusin dia.”
“Karena dia penting bagiku, dia selalu perhatian sama aku enggak kayak Mamah selalu marahin aku doang, gak pernah kasih aku kebebasan, aku cowok Mah bukan cewk yang slalu diatur-atur,” lawanku pada Mamah.
“Kamu ngelawan ya sama Mamah. Kualat kamu ya,” bentak Mamah lalu menamparku.
“Mamah tuh gak tahu apa yang aku rasakan selama ini. Sendiri di rumah, gak ada teman, selalu dibentak. Padahal aku selalu turuti keinginan Mamah tapi Mamah gak pernah perhatian padaku, gak bisa beri aku kasih sayang. Paling waktu aku masih kecil doang,” lawanku lalu pergi ke kamar dengan air mata yang sudah tak terkendali ingin keluar kan semua.
Di kamar aku hanya menangis, menangis dan menangis. Aku tak ada henti- hentinya untuk mengeluarkan air mata. Aku pun berdoa untuk kesembuhan Vivi agar lewat dari masa kritisnya. Karena aku tak mau kehilangan Vivi. Bagiku dia adalah malaikat. Dan hanya dialah yang peduli terhadapku, dialah orang yang paling aku sayangi, dialah yang selalu perhatian padaku. Aku berharap dia lewat dari kritisnya dan ku berharap semua orang termasuk orang tuaku bisa menyayangiku.
***************

By: Fransiskus Sia Muliardi S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1. Tolong beri komentar
2. Follow blog duniafranz.blogspot.com
3. Jangan Lupa mampir lagi
4. Jangan Lupa Di Share Postingannya
5. Terima Kasih